PSIKOLOGI
PERKEMBANGAN 2
PENTINGNYA
MENUMBUHKAN
NILAI MORAL ANAK USIA DINI
Penulis:
Pitria (1607766)
2A PGPAUD
UNIVERSITAS
PENDIDIKAN INDONESIA
KAMPUS
DAERAH PURWAKARTA
TAHUN
AJARAN 2016/2017
Abstrak
Artikel ini dilatarbelakangi akan
pentingnya menumbuhkan nilai moral anak usia dini. Proses penanaman nilai moral
berlangsung dari manusia sejak lahir. Pada usia dini merupakan waktu yang
sangat tepat untuk menubumbuhkan nilai moral melalui lingkungan keluarga,
sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu pendidikan moral diharapkan dapat
membangun potensi anak-anak sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar
yang sesuai dengan moral serta menjadi
warga negara yang baik. Metode yang digunakan dalam pembuatan artikel ini
adalah menggunakan metode deskriptif yaitu metode yang menggambarkan fenomena
yang ada, mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala.
Kata
kunci:
Menumbuhkan nilai moral, anak usia
dini, penerapan dalam kehidupan sehari-hari .
A. Pendahuluan
Pendidikan merupakan salah satu hal
yang sangat penting dalam mempersiapkan
generasi muda yang berkualitas dan dapat memperbaiki kehidupan bangsa. Salah
satu hal penting yang harus mendapat
perhatian besar adalah penerapan
pendidikan pada anak usia dini. Pendidikan harus diberikan sejak usia dini,
memberikan perhatian yang lebih kepada anak-anak tentang pendidikan, pola
pengasuhan, dan memperhatikan perkembangan anak agar sesaui dengan potensi dan
usia anak. Pendidikan nilai moral yang diberikan pada anak usia dini
diharapkan dapat menumbuhkan perilaku
sesuai nilai moral sehingga anak dapat memahami baik buruk, salah benar, dan
menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pentingnya penanaman nilai moral anak
usia dini agar terbentuk karakter yang sesuai dengan potensi dan perkembangan
anak. Pada penerapan pendidikan moral
tidak hanya fokus pada pengembangan kemampuan intelektual anak tetapi
pengembanngan sikap dan kepribadian juga di prioritaskan.
B.
Pembahasan
I. Pengertian nilai moral
Istilah Moral berasal dari kata
Latin “mos”, yang berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan/nilai-nilai atau
tatacara kehidupan. Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan
melakukan peraturan, nilai-nilai atau prisnsip-prinsip moral. Menurut
Sjarkawi, (2006: 28), mengemukakan bahwa moral merupakan pandangan
tentang baik dan buruk, benar dan salah, apa yang dapat dan tidak dapat
dilakukan.
Penanaman pendidikan moral perlu diberikan
sejak usia dini, karena di usia inilah anak memasuki masa keemasan (golden age ) yang hanya terjad sekali
dalam hidupnya. Usia dini merupakan masa yang sangat penting untuk
mengembangkan kecerdasan moral anak. Pentingnya pendidikan moral diharapkan
agar terbentuk manusia yang lebih bermoral. Seseorang dapat dikatakan bermoral,
apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang
dijunjung tinggi oleh kelompok sosialnya. Pendidikan moral dapat diartikan
sebagai suatu konsep kebaikan (konsep yang bermoral) yang diberikan atau
diajarkan kepada peserta didik (generasi muda dan masyarakat) untuk membentuk
budi pekerti luhur, berakhlak mulia dan berperilaku terpuji seperti terdapat
dalam Pancasila dan UUD 1945. (Hamid Darmadi 2007:56-67).
Menurut Sjarkawi, 2005: 29 Nilai
moral diartikan sebagai isi mengenai keseluruhan tatanan yang mengatur
perbuatan, tingkah laku, sikap dan kebiasaan manusia dalam masyarakat
berdasarkan pada ajaran nilai, prinsip dan norma. Nilai-nilai moral seperti
seruan berbuat baik kepada orang lain, memelihara kebersihan, memelihara
keamanan dan ketertiban, melaksanakan kewajiban, menghargai hak orang lain, larangan
berbuat kekerasan, larangan mencuri, dan sebagainya.
II. Pengertian
Anak Usia Dini
Di Indonesia pengertian
anak usia dini yaitu ditujukan untuk anak ysng berusia 0-6 tahun, seperti dalam
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional pada pasal 1 ayat 14 yang menyatakan pendidikan anak usia dini adalah
pendidikan yang diperuntukkan bagi anak sejak lahir sampai usia 6 tahun. Anak
usia dini adalah individu yang sedang mengalami pesatnya pertumbuhan dan
perkembangan. Pada usia ini anak memiliki sifat dan karakteristik yang unik, daya
berfikirnya luar biasa yang tidak diduga orang dewasa , dan perlu mendapatkan
bimbingan yang lebih dari orang disekitarnya agar potensi dan kemampuannya
berkembang secara optimal.
III. Keterkaitan
antara Nilai, Moral, dan Sikap serta pengaruhnya terhadap tingkah laku
Nilai-nilai
kehidupan adalah norma-norma yang
berlaku dalam masyarakat, misalnya adat kebiasaan dan sopan santun (Sutikna,
1988:5) . Moral merupakan kendali dalam bertingkah laku, karena dalam moral
diatur tentang perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan, dan suatu
perbuatan yang dinilai tidak baik dan
perlu dihindari. Misalnya dalam pengamalan nilai hidup yaitu tenggang
rasa, dalam berperilaku memperhatikan perasaan orang lain, dan dapat membedakan
tindakan yang benardan salah. Pada anak
usia dini setidaknya anak-anak mengerti dan paham tentang perilaku salah
dan benar, menyayangi teman-temanya, tidak mengambil barang yang bukan
miliknya, bersika sopan santu kepada orang tua dan guru. Oleh karena itu
pendidikan moral sangat penting untuk diberikan kepada anak sejak dini agar
potensi anak berkembang optimal dan
memiliki nilai moral yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kerkaitan
antar nilai, moral, sikap dan tingkah laku akan tampak dalam pengamalan
nilai-nilai. Dalam hal ini nilai-nilai perlu dikenalkan terlebih dahulu
khususnya pada anak usia dini, kemudian dipahami atau dihayati dan didorong
oleh moral, hasilnya akan terbentuk sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai
yang dimaksud.
IV.
Proses perkembangan moral
Perkembangan
Moral anak dapat dapat berlangsung melalui beberapa cara, diantaranya:
a)
Pendidikan langsung, yaitu melalui
penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar dan salah, atau baik dan
buruk oleh orang tua, guru atau orang dewasa lainnta. Keteladanan dari orang tua,
guru atau orang dewasa lainnya juga berpengaruh dalam menumbuhkan nilai-nilai
moral.
b)
Identifikasi, yaitu dengan cara
mengidentifikasi atau meniru penampilan atau tingkah laku moral seseorang yang
menjadi idolanya (seperti orang tua, guru, orang dewasa lainnya).
c)
Proses coba-coba (trial & error),
yaitu dengan cara mengembangkan tingkah laku moral secara coba-coba. Perilaku
yang mendatangkan pujian atau penghargaan akan terus dilakukan sedangkan yang
tingkah laku yang mendatangkan hukuman atau celaan akan dihentikan.
V. Menumbuhkan
nilai moral pada anak usia dini
Perkembangan moral anak mmudah dipengaruhi
oleh lingkungan. Anak memperoleh nilai-nilai moral dari lingkungannya, terutama
dari lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Anak belajar mengenal dan
berperilaku sesuai nilai-nilai dan dalam lingkungan keluarga terutama sikap
orang tua dapat mempengaruhi pembentukan moral anak. Lingkungan sekolah juga
tidak kalah penting dalam menumbuhkan nilai moral pada anak, karena di sekolah
anak-anak mendapatkan pengetahuan lebih untuk mengasah kemampuan intelektualnya
serta kemampuan bersosialisasi agar sesuai moral.
Berikut
sikap yang perlu diperhatikan sehubungan dengan
menumbuhkan nilai moral pada
anak:
a)
Sikap orang terhadap anak-anak
1. Konsisten
dalam mendidik anak
Orang tua harus konsisten dalam
mendidik anak yaitu sikap dan perlakuan yang ditunjukan dalam melarang atau
membolehkan harus sama kepada anak.
Tingkah laku yang dilarang pada suatu waktu harus dilakukan juga pada waktu
yang lain.
2. Sikap
orang tua dalam keluarga
Sikap ayah dan ibu secara tidak
langsung dapat mempengaruhi perilaku moral anak melalui proses peniruan. Sikap
orang tua yang keras atau otoriter cenderung melahirkan sikap keras dan
disiplin pada anak, sedangkan sikap masa bodoh akan membentuk perilaku tidak
bertanggung jawab. Sikap baik yang perlu ditanamkan dan dipraktekan oleh orang
tua yaitu s ikap kasih sayang,
keterbukaan, konsisten.
3. Peng
hayatan dan pengamalan nilai agama
Lingkungan terdekat anak yang
paling berpengaruhi yaitu keluarga. Orang tua merupakan teladan bagi anak dalam
mengajarkan dan mengamalkan nilai agama. Dengan menciptakan lingkungan keluarga
yang religius akan menumbuhkan perkembangan moral anak.
4. Sikap
konsisten orang tua dalam menerapkan norma
Apabila orang tua mengajarkan
perilaku jujur pada anak maka ornagtua pun harus berperilaku jujur. Jika orang
tua tidak mempraktekan apa yang di perintahkan maka akan menimbulkan
ketidakkonsistenan orang tua akibatkanya anak akan mengalami konflik atau merasa
bingung pada dirinya.
b)
Penanaman nilai moral di lingkungan
sekolah
1) Metode
bermain
Bermain merupakan dunia anak
sehingga dalam menerapkan pembelajaran pada anak harus melalui metode belajar
sambil bermain. Melalui bermain anak dapat mengekspresikan perasaan dan
imajinasinya secara bebas. Banyak nilai moral dan sosial yang dapat diajarkan
melalui bermain yaitu mengajarkananak bersosialisasi dan bekerjasama dengan
temannya, mengajarkan anak agar memiliki sikap tenggang rasa, menolong teman,
menumbuhkan rasa peduli, mengajarkan sikap sopan baik kepada teman-temannya
maupun kepada guru.
2) Metode
bernyanyi
Pembelajaran akan terasa lebih menyenangan
menggunakan metode bernyanyi, karena anak-anak identik dengan nyanyian dan
pelajaran yang disampaikan harapnnya dapat diterima dengan mudah oleh anak.
Misalnya anak diajak bernyanyi “dua mata saya” maka pesan moral yang
disampaikan bahwa manusia memiliki tubuh dan jika salah satu tubuh kita ada
yang sakit maka seluruh tubuh juga akan merasakannya. Oleh karena itu anak-anak
perlu diajarkan untuk menyayangi anggota tubuhnya.
3) metode bercerita
Proses pembelajaran akan terasa
lebih efektif pada anak-anak jika menggunakan cerita dibandingkan hanya dengan
menyampaikan secara tekstual. Anak-anak akan merasa lebih tertarik dan tidak
bosan dalam mendengarkan pembelajarn yang disampaikan. Dalam bercerita harus
memilih tema yang terdapat unsur mendidik dan pada akhir cerita terdapat amanat
yang terkandungnya. Amanat bisa berupa ajakan berbuat baik, berperilaku sopan,
menyayangi teman, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan perilaku moral pada
anak.
4) Metode
pemberian tugas
Nilai moral yang dapat diterapkan
dalam pemberian tugas yaitu melatih kesabaran anak, tanggung jawab terhadap
tugasnya, melatih sikap kerja sama, dan menumbuhkan sikap bersosialisai dengan
orang lain yang dapat mendorong perilaku moral anak.
5) Metode
bercakap-cakap
Dalam bercakap-cakap banyak
pelajaran yang akan didapatkan yaitu melalui komunikasi guru dapat menyampaikan
dan mengajarkan nilai dan norma yang baik. Misalnya mengajarkan untuk
membiasakan berperilaku 5S ketika bertemu orang lain (senyum, sapa, salam,
sopan, santun).
6) Metode
outbond
Melaui metode ini akan bekajar
lebih dekat dengan alam. Adapun tujuannya agar anak tidak merasa bosan atau
tidak hanya memahami apa yang disampaikan oleh guru didalam kelas. Anak juga
dapat merasakan secara konkrit tentang alam disekitarnya. Dalam hal ini guru
dapat mengajarakn perilaku moral agar menjaga
alam dan tidak merusaknya.
7) Metode
karyawisata
Metode ini dapat mengembangkan
asoek perkembanangan anak sesuai dengan kebutuhannya atau dihubungkan dengan
tema pembelajaran. Misalnya tema yang sesuai yaitu binatang maka mengadakan
karyawisata ke kebun binatang, tema pekerjaan maka mengadakan karyawisata ke
pemadam kebakaran, polisi, dan sebagainya
8) Metode
bermain peran
Dalam hal ini anak belajar
memainkan peran yang harus dilakukannya. Misalnya anak memerankan sebagai
kakak, maka sikap yang harus ditunjukan adalah menyayangi adiknya. Sehingga
dalam metode bermain anak belajar merasakan jika berada dalam posisi orang
lain.
9) Metode
teladan
Guru di sekolah hendaknya bertindak
sebagai fasilitator bagi anak bukan sebagai pentransfer ilmu. Karena anak akan
merasa lebih nyaman jika kebutuhannya terpenuhi dan tidak merasa tertekan dalam
proses pembelajarannya. Guru bertindak sebagai teladan dalam bersikap yang
dapat dicontohkan pada anak-anaknya.
C.
Kesimpulan
Pendidikan pada anak usia dini perlu diperhatikan secara khusus,
karena kebutuhan anak-anak lebih kompleks dibandingkan orang dewasa. Pada masa
emas (golden age) ini merupakan
kesempatan untuk menanamkan dan menumbuhkan perilaku moral pada anak. Salah
satu cara dalam menumbuhkan nilai moral pada anak usia dini adalah melalui
pendidikan moral. Sehingga potensi dan kemampuan anak dapat berkembang secara
optimal, agar tidak hanya kemampuan intelektualnya yang berkembang tetapi
diharapkan selanjutnya menjadi manusia yang lebih bermoral.
Lingkunga berpengaruh besar terhadap perkembangan moral anak.
Pendidikan di keluarga merupakan lingkungan terdekat bagi anak sehingga orang
tua diharapkan lebih menjaga sikapnya karena secara tidak langsung anak akan
mendapat pengaruhnya. Di sekolah penanaman moral anak dapat dilakukan melalui
berbagai metode yaitu metode bermain, metode bernyanyi, metode bercerita,
metode pemberian tugas, metode bercakap-cakap, metode outbond, metode
karyawisata, metode beramain peran, metode teladan. Tujuan pendidikan moral
pada anak yaitu menciptakan pendidikan berkarakter, melahirkan generasi penerus
bangsa yang cerdas dalam intelektual dan berkualitas dalam moral.
DAFTAR
PUSTAKA
LN, S. Y. (2007). Psikologi
Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sunarto, & Hartono, N. B.
(2008). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.