Sabtu, 08 April 2017

Pentingnya Menumbukan Nilai Moral Anak Usia Dini





PSIKOLOGI PERKEMBANGAN 2  
PENTINGNYA MENUMBUHKAN 
NILAI MORAL ANAK USIA DINI


Penulis:
Pitria  (1607766)
2A PGPAUD




UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
KAMPUS DAERAH PURWAKARTA
TAHUN AJARAN 2016/2017







Abstrak
Artikel ini dilatarbelakangi akan pentingnya menumbuhkan nilai moral anak usia dini. Proses penanaman nilai moral berlangsung dari manusia sejak lahir. Pada usia dini merupakan waktu yang sangat tepat untuk menubumbuhkan nilai moral melalui lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu pendidikan moral diharapkan dapat membangun potensi anak-anak sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar yang sesuai dengan  moral serta menjadi warga negara yang baik. Metode yang digunakan dalam pembuatan artikel ini adalah menggunakan metode deskriptif yaitu metode yang menggambarkan fenomena yang ada, mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala.


Kata kunci:
Menumbuhkan nilai moral, anak usia dini, penerapan dalam kehidupan sehari-hari .


A.  Pendahuluan

Pendidikan merupakan salah satu hal yang sangat penting  dalam mempersiapkan generasi muda yang berkualitas dan dapat memperbaiki kehidupan bangsa. Salah satu hal  penting yang harus mendapat perhatian besar adalah  penerapan pendidikan pada anak usia dini. Pendidikan harus diberikan sejak usia dini, memberikan perhatian yang lebih kepada anak-anak tentang pendidikan, pola pengasuhan, dan memperhatikan perkembangan anak agar sesaui dengan potensi dan usia anak. Pendidikan nilai moral yang diberikan pada anak usia dini diharapkan  dapat menumbuhkan perilaku sesuai nilai moral sehingga anak dapat memahami baik buruk, salah benar, dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pentingnya penanaman nilai moral anak usia dini agar terbentuk karakter yang sesuai dengan potensi dan perkembangan anak. Pada  penerapan pendidikan moral tidak hanya fokus pada pengembangan kemampuan intelektual anak tetapi pengembanngan sikap dan kepribadian juga di prioritaskan.


B.       Pembahasan

I.      Pengertian nilai moral
Istilah Moral berasal dari kata Latin “mos”, yang berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan/nilai-nilai atau tatacara kehidupan. Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prisnsip-prinsip moral. Menurut Sjarkawi,  (2006: 28),  mengemukakan bahwa moral merupakan pandangan tentang baik dan buruk, benar dan salah, apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan.
Penanaman pendidikan moral perlu diberikan sejak usia dini, karena di usia inilah anak memasuki masa keemasan (golden age ) yang hanya terjad sekali dalam hidupnya. Usia dini merupakan masa yang sangat penting untuk mengembangkan kecerdasan moral anak. Pentingnya pendidikan moral diharapkan agar terbentuk manusia yang lebih bermoral. Seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh kelompok sosialnya. Pendidikan moral dapat diartikan sebagai suatu konsep kebaikan (konsep yang bermoral) yang diberikan atau diajarkan kepada peserta didik (generasi muda dan masyarakat) untuk membentuk budi pekerti luhur, berakhlak mulia dan berperilaku terpuji seperti terdapat dalam Pancasila dan UUD 1945. (Hamid Darmadi 2007:56-67).
Menurut Sjarkawi, 2005: 29 Nilai moral diartikan sebagai isi mengenai keseluruhan tatanan yang mengatur perbuatan, tingkah laku, sikap dan kebiasaan manusia dalam masyarakat berdasarkan pada ajaran nilai, prinsip dan norma. Nilai-nilai moral seperti seruan berbuat baik kepada orang lain, memelihara kebersihan, memelihara keamanan dan ketertiban, melaksanakan kewajiban, menghargai hak orang lain, larangan berbuat kekerasan, larangan mencuri, dan sebagainya.

II.      Pengertian Anak Usia Dini
Di Indonesia pengertian anak usia dini yaitu ditujukan untuk anak ysng berusia 0-6 tahun, seperti dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 1 ayat 14 yang menyatakan pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang diperuntukkan bagi anak sejak lahir sampai usia 6 tahun. Anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami pesatnya pertumbuhan dan perkembangan. Pada usia ini anak memiliki sifat dan karakteristik yang unik, daya berfikirnya luar biasa yang tidak diduga orang dewasa , dan perlu mendapatkan bimbingan yang lebih dari orang disekitarnya agar potensi dan kemampuannya berkembang secara optimal.  

III.   Keterkaitan antara Nilai, Moral, dan Sikap serta pengaruhnya terhadap tingkah laku
            Nilai-nilai kehidupan adalah  norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, misalnya adat kebiasaan dan sopan santun (Sutikna, 1988:5) . Moral merupakan kendali dalam bertingkah laku, karena dalam moral diatur tentang perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan, dan suatu perbuatan yang dinilai tidak baik dan  perlu dihindari. Misalnya dalam pengamalan nilai hidup yaitu tenggang rasa, dalam berperilaku memperhatikan perasaan orang lain, dan dapat membedakan tindakan yang benardan salah. Pada anak  usia dini setidaknya anak-anak mengerti dan paham tentang perilaku salah dan benar, menyayangi teman-temanya, tidak mengambil barang yang bukan miliknya, bersika sopan santu kepada orang tua dan guru. Oleh karena itu pendidikan moral sangat penting untuk diberikan kepada anak sejak dini agar potensi anak berkembang optimal dan  memiliki nilai moral yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
             Kerkaitan antar nilai, moral, sikap dan tingkah laku akan tampak dalam pengamalan nilai-nilai. Dalam hal ini nilai-nilai perlu dikenalkan terlebih dahulu khususnya pada anak usia dini, kemudian dipahami atau dihayati dan didorong oleh moral, hasilnya akan terbentuk sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai yang dimaksud.

IV.   Proses perkembangan moral    
            Perkembangan Moral anak dapat dapat berlangsung melalui beberapa cara, diantaranya:
a)        Pendidikan langsung, yaitu melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar dan salah, atau baik dan buruk oleh orang tua, guru atau orang dewasa lainnta. Keteladanan dari orang tua, guru atau orang dewasa lainnya juga berpengaruh dalam menumbuhkan nilai-nilai moral.
b)        Identifikasi, yaitu dengan cara mengidentifikasi atau meniru penampilan atau tingkah laku moral seseorang yang menjadi idolanya (seperti orang tua, guru, orang dewasa lainnya).
c)        Proses coba-coba (trial & error), yaitu dengan cara mengembangkan tingkah laku moral secara coba-coba. Perilaku yang mendatangkan pujian atau penghargaan akan terus dilakukan sedangkan yang tingkah laku yang mendatangkan hukuman atau celaan akan dihentikan.

   V.  Menumbuhkan nilai moral pada anak usia dini
   Perkembangan moral anak mmudah dipengaruhi oleh lingkungan. Anak memperoleh nilai-nilai moral dari lingkungannya, terutama dari lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Anak belajar mengenal dan berperilaku sesuai nilai-nilai dan dalam lingkungan keluarga terutama sikap orang tua dapat mempengaruhi pembentukan moral anak. Lingkungan sekolah juga tidak kalah penting dalam menumbuhkan nilai moral pada anak, karena di sekolah anak-anak mendapatkan pengetahuan lebih untuk mengasah kemampuan intelektualnya serta kemampuan bersosialisasi agar sesuai moral.
            Berikut sikap yang perlu diperhatikan sehubungan dengan  menumbuhkan  nilai moral pada anak:
a)        Sikap orang terhadap anak-anak
1.      Konsisten dalam mendidik anak
Orang tua harus konsisten dalam mendidik anak yaitu sikap dan perlakuan yang ditunjukan dalam melarang atau membolehkan  harus sama kepada anak. Tingkah laku yang dilarang pada suatu waktu harus dilakukan juga pada waktu yang lain.
2.      Sikap orang tua dalam  keluarga
Sikap ayah dan ibu secara tidak langsung dapat mempengaruhi perilaku moral anak melalui proses peniruan. Sikap orang tua yang keras atau otoriter cenderung melahirkan sikap keras dan disiplin pada anak, sedangkan sikap masa bodoh akan membentuk perilaku tidak bertanggung jawab. Sikap baik yang perlu ditanamkan dan dipraktekan oleh orang tua yaitu  s ikap kasih sayang, keterbukaan, konsisten.
3.      Peng hayatan dan pengamalan nilai agama
Lingkungan terdekat anak yang paling berpengaruhi yaitu keluarga. Orang tua merupakan teladan bagi anak dalam mengajarkan dan mengamalkan nilai agama. Dengan menciptakan lingkungan keluarga yang religius akan menumbuhkan perkembangan moral anak.
4.      Sikap konsisten orang tua dalam menerapkan norma
Apabila orang tua mengajarkan perilaku jujur pada anak maka ornagtua pun harus berperilaku jujur. Jika orang tua tidak mempraktekan apa yang di perintahkan maka akan menimbulkan ketidakkonsistenan orang tua akibatkanya anak akan mengalami konflik atau merasa bingung pada dirinya.
   b)      Penanaman nilai moral di lingkungan sekolah
1)      Metode bermain
Bermain merupakan dunia anak sehingga dalam menerapkan pembelajaran pada anak harus melalui metode belajar sambil bermain. Melalui bermain anak dapat mengekspresikan perasaan dan imajinasinya secara bebas. Banyak nilai moral dan sosial yang dapat diajarkan melalui bermain yaitu mengajarkananak bersosialisasi dan bekerjasama dengan temannya, mengajarkan anak agar memiliki sikap tenggang rasa, menolong teman, menumbuhkan rasa peduli, mengajarkan sikap sopan baik kepada teman-temannya maupun kepada guru.
2)      Metode bernyanyi
  Pembelajaran akan terasa lebih menyenangan menggunakan metode bernyanyi, karena anak-anak identik dengan nyanyian dan pelajaran yang disampaikan harapnnya dapat diterima dengan mudah oleh anak. Misalnya anak diajak bernyanyi “dua mata saya” maka pesan moral yang disampaikan bahwa manusia memiliki tubuh dan jika salah satu tubuh kita ada yang sakit maka seluruh tubuh juga akan merasakannya. Oleh karena itu anak-anak perlu diajarkan untuk menyayangi anggota tubuhnya.
3) metode bercerita
Proses pembelajaran akan terasa lebih efektif pada anak-anak jika menggunakan cerita dibandingkan hanya dengan menyampaikan secara tekstual. Anak-anak akan merasa lebih tertarik dan tidak bosan dalam mendengarkan pembelajarn yang disampaikan. Dalam bercerita harus memilih tema yang terdapat unsur mendidik dan pada akhir cerita terdapat amanat yang terkandungnya. Amanat bisa berupa ajakan berbuat baik, berperilaku sopan, menyayangi teman, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan perilaku moral pada anak.
4)      Metode pemberian tugas
Nilai moral yang dapat diterapkan dalam pemberian tugas yaitu melatih kesabaran anak, tanggung jawab terhadap tugasnya, melatih sikap kerja sama, dan menumbuhkan sikap bersosialisai dengan orang lain yang dapat mendorong perilaku moral anak.
5)      Metode bercakap-cakap
Dalam bercakap-cakap banyak pelajaran yang akan didapatkan yaitu melalui komunikasi guru dapat menyampaikan dan mengajarkan nilai dan norma yang baik. Misalnya mengajarkan untuk membiasakan berperilaku 5S ketika bertemu orang lain (senyum, sapa, salam, sopan, santun).
6)      Metode outbond
Melaui metode ini akan bekajar lebih dekat dengan alam. Adapun tujuannya agar anak tidak merasa bosan atau tidak hanya memahami apa yang disampaikan oleh guru didalam kelas. Anak juga dapat merasakan secara konkrit tentang alam disekitarnya. Dalam hal ini guru dapat mengajarakn perilaku moral agar menjaga
alam dan tidak merusaknya.
7)      Metode karyawisata
Metode ini dapat mengembangkan asoek perkembanangan anak sesuai dengan kebutuhannya atau dihubungkan dengan tema pembelajaran. Misalnya tema yang sesuai yaitu binatang maka mengadakan karyawisata ke kebun binatang, tema pekerjaan maka mengadakan karyawisata ke pemadam kebakaran, polisi, dan sebagainya
8)      Metode bermain peran
Dalam hal ini anak belajar memainkan peran yang harus dilakukannya. Misalnya anak memerankan sebagai kakak, maka sikap yang harus ditunjukan adalah menyayangi adiknya. Sehingga dalam metode bermain anak belajar merasakan jika berada dalam posisi orang lain.
9)      Metode teladan
Guru di sekolah hendaknya bertindak sebagai fasilitator bagi anak bukan sebagai pentransfer ilmu. Karena anak akan merasa lebih nyaman jika kebutuhannya terpenuhi dan tidak merasa tertekan dalam proses pembelajarannya. Guru bertindak sebagai teladan dalam bersikap yang dapat dicontohkan pada anak-anaknya.



   C.                Kesimpulan

     Pendidikan pada anak usia dini perlu diperhatikan secara khusus, karena kebutuhan anak-anak lebih kompleks dibandingkan orang dewasa. Pada masa emas (golden age) ini merupakan kesempatan untuk menanamkan dan menumbuhkan perilaku moral pada anak. Salah satu cara dalam menumbuhkan nilai moral pada anak usia dini adalah melalui pendidikan moral. Sehingga potensi dan kemampuan anak dapat berkembang secara optimal, agar tidak hanya kemampuan intelektualnya yang berkembang tetapi diharapkan selanjutnya menjadi manusia yang lebih bermoral.
     Lingkunga berpengaruh besar terhadap perkembangan moral anak. Pendidikan di keluarga merupakan lingkungan terdekat bagi anak sehingga orang tua diharapkan lebih menjaga sikapnya karena secara tidak langsung anak akan mendapat pengaruhnya. Di sekolah penanaman moral anak dapat dilakukan melalui berbagai metode yaitu metode bermain, metode bernyanyi, metode bercerita, metode pemberian tugas, metode bercakap-cakap, metode outbond, metode karyawisata, metode beramain peran, metode teladan. Tujuan pendidikan moral pada anak yaitu menciptakan pendidikan berkarakter, melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dalam intelektual dan berkualitas dalam moral.





DAFTAR PUSTAKA


  LN, S. Y. (2007). Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: PT Remaja       Rosdakarya.

Sunarto, & Hartono, N. B. (2008). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar